Oktavianakharlina’s Blog











{26 Mei 2009}   SINOPSIS KARYA SATRA

6db38bcfbda5901e7b4f7aca26ac292f_t

I. PUBLIKASI BUKU

Judul : Nayla Pengarang : Djenar Maesa Ayu Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun : 2005 Mei Hal : 180 Tebal : 1 cm Warna Sampul : Coklat Muda Ukuran BUku : 14×21 cm Ukuran Tulisan : 12 Jenis Tulisan : Time New Roman Harga : 38.500,- ISBN : 9792214135

II. SINOPSIS BUKU Penting : Novel ini hanya untuk pembaca dewasa! Nayla, seorang permpuan yang tidak mencari cinta. Seorang perempuan yang mencari mabuk. Seorang perempuan yang sebenarnya sedang mabuk cinta tapi tidak mau mengakuinya.-Ben “Gimana tamu-tamu yang baru bisa tah kalo Nayla bukan cewek bayaran? Tingkah lakunya jauh lebih brengsek ketimbang pramuria-pramuria itu” –Juli “Saya rasa Nayla memakai narkoba” –Ratu “Saya mabuk, dan saya menjadi bidadari. Saya tidak peduli” –Nayla

III. BIOGRAFI PENULIS Djenar Maesa Ayu adalah salah seorang pengarang yang sangat produktif dalam karya sastranya. Ia dilahirkan di Jakarta 14 Januari 1973. Hasil karyanya kebanyakan berupa cerpen yang tersebar di berbagai media massa dalam negeri. Karya pertama Djenar berjudu: Mereka Bilang, Saya Monyet telah dicetak ulang 8 kali dan masuk dalam nominasi 1o besar terbaik Khatulistiwa Literary Award 2003, selain itu juga diterbitkan dalam Bahasa Inggris. masih banyak lagi karya cerpen Djenar yang masuk dalam kategori cerpen terbaik 2003 yang semuanya itu dapat disejajarkan dengan pengarang sastra lainnya. Nayla adalah novel pertama Djenar yang sekarang ini sedang diangkat dalam pembuatan layar lebar.

IV. ULASAN CERITA Sejak orang tuanya bercerai, Nayla Kinar ikut bersama Ibunya, sedangkan ayahnya kawin lagi. Selama hidup bersama sang Ibu Nayla kecil mengalami banyak tekanan kejiwaan maupun fisik seperti saat ia tidak bisa berhenti ngompol, ibu menusuk vaginanya dengan peniti, begitupula saat Nayla tidak mau makan sayur maka ibu memaksanya untuk mengeluarkan makanan yang telah ditelannya dan menyumpal mulutnya dengan kotorannya sendiri, atau saat Nayla menghilangkan tutup pensil setelah menggunakannya, maka ibu menyuruhnya berjemur diatas atap seng hingga kulit pada telapak kakinya mengelupas. Tekanan yang paling menyakitkan bagi Nayla ialah saat ia diperkosa oleh laki-laki teman kencan ibunya sendiri, padahal umurnya waktu itu masih sembilan tahun. Nayla kemudian memilih untuk tinggal bersama ayahnya yang seorang penulis, namun kematian ayahnya ternyata membuat Nayla terpukul dan dia mulai terlibat dengan narkotik sampai Ibu tirinya mengirim dia ke pusat rehabilitasi. Nayla melarikan diri dari pusat rehabilitasi, dia memasuki dunia malam sebagai seorang juru lampu di sebuah diskotek yang kemudian mempertemukannya dengan Juli, seorang lesbian yang berprofesi sebagai disk jockey. Selepas kepergian Juli, Nayla mulai menjalin hubungan dengan laki-laki yang bernama Ben, namun hubungan itu akhirnya harus berakhir karena perbedaan persepsi mengenai pandangan hidup mereka. Pada akhirnya Nayla berhasil menjadi penulis yang sukses berkat perjalanan hidup yang tertuang dalam bentuk tulisan, bahkan dia juga menerima tawaran untuk mengangkat tulisannya untuk dijadikan sebuah skenario film.

V. KELEBIHAN BUKU Novel Nayla karangan Djenar Maesa Ayu sangat menarik bila dikaji dengan pendekatan psikologis, khususnya dalam analisis frustrasi. Novel ini mempunyai kelebihan di antaranya ialah tokoh utama cerita ternyata mampu dan tegar menghadapi berbagai fenomena hidup meskipun di dalamnya banyak terjadi konflik. Di lain pihak, melalui tokoh cerita pengarang ingin menyampaikan pesan moral kepada pembaca bahwa pentingnya orang tua memberikan pendidikan yang baik kepada anak. Hanya saja pada akhir cerita, pengarang tidak memberikan penilaian bahwa apa yang diperbuat oleh sang tokoh cerita merupakan suatu bentuk pelanggaran terhadap susila agama sehingga apa yang diperbuat oleh sang tokoh cerita semata-mata akibat dari rasa frustrasi dan kecewa yang berat dengan kedua orang tuanya.

VI. KEKURANGAN BUKU Kekurangan buku ini adalah terlalu menggunakan bahasa yang sangat ketus, kasar, keras, dan tak sesuai dengan kajian bahasa baku. Jika dilihat dari segi psikologis memang terdapat kebaikkan karena menceritakan bagaimana seorang anak menghadapi hidup tanpa seorang ayh, tetapi jika dilihat dari segi agama, sangatlah tidak baik, karena terdapat sangat banyak kata-kata kasar dan perbuatan yang bertentangan dengan agama, seperti jatuh cinta dengan sesame jenis, kemudian mabuk-mabukkan, kediskotik, sex bebas, dll. Mudah-mudah semua pembaca dapat menilai kebaikan dan keburukkan serta bisa mengambil sesuatu yang baik untuk diteladani dan yang jahat untuk di jadikan pelajaran.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: