Oktavianakharlina’s Blog











{26 Maret 2009}   TA KAN BAHASA MELAYU HILANG DIRIAU

Pertemuan dihotel Aryaduta,pekanbaru,rabu pekan lalu,rasnaya cukup menggembirakan. sejoumlah tokoh dari dalam dan lauar negri, dalam pertemuan bersempena dengan seminar dunia melayu dunia islam, berupa menjadikan bahasa melayu sebagai bahasa resmi di  Perserikatan Bangsa-Bangsa(PBB).

Pertimbangan untuk menjadikannya sebagai bahasa remi PBB, antara lain karena bahasa Melayu dianggap sebagai bahasa yang mampu menyatukan keragaman bahasa. Selain itu, sebagian besar negara ASEAN sudah mengenal dan bahkan menggunakan bahasa Melayu. Bahasa Melayu juga, menurut mereka, sudah dikenal sebagai bahasa perdagangan yang terus digunakan secara meluas, baik antar Daerah maupun antar Negara.

Jika upaya itu berhasil, berarti bahasa Melayu pun akan ikut mensejahterakan diri dengan 5 bahasa resmi yang digunakan PBB saat ini. yakni, Prancis, Spanyol, English, Arab, Cina dan Rusia. Dengan kata lain,gengsi orang yang berbahasa Melayudi Forum-Forum resmi pun menjadi lebih besar.

Jika diamati secara lebih cermat,sesuai dengan budaya melayu yang terbuka lebar, bahasa melayu sejak dulu membuka diri lebar2 terhadap masuknya serapan bahasa lain. Pada zaman dulu, misalnya, kata2 arab masuk dan kemudian menjadi bahasa Melayu. Sedangkan saat ini, seperti yang telah terjadi di Malaysia dan juga Indonesia, banyak sekali unsur serapan bahasa Inggris yang meleburkan diri.

terjadinya pembauran bahasa seperti ini, dengan sendirinya membuat bahasa Melayu tsb semakin sulit dimengerti oleh penggunanya dikawasan yang berbeda. Dengan begitu, jangankan menjadi bahasa resmi PBB, untuk menjadi bahasa pergaualan bagi masyarakat Melayu di ASEAN saja akan kian sulit terwujudkan.

Sebuah fenomena sangat menarik terlihat di Pekanbaru,sebagai ibukota Provinsi Riau, yang daalm visi 2020 mnecanangkan riau sebagai pusat kebudayaan melayu di Asia Tenggara. Seorang pendatang menggungkapkan dirinya agak terperanjat saat menginjakkan kaki untuk pertama kalinya dikota Pekanbaru. Semula iya menyangak orang-orang yang ditemuinya dibandara Sultan Syarif Kasimdan kemudian dikawasan perkotaan akan menyapa dengan dialek Melayu yang kental.

Namun, di Pekanbaru nuansanya terasa lain. Mayoritas masyarakat tenyata tak menjadikan bahsa Melayu sebagai bahasa pergaualan sehari-hari, baik di pasar maupun ditempat keramaian umum lainnya. Bahkan, konon, di SD masih da murid-murid kelas 1 yang menyebutkan bilangan bukan dengan bahasa Indonesia maupun bahasa Melayunamun dengan dialek bahasa daerah lain.

Fakta seperti ini rasanya ta bisa terbantahkan lagi karena itu untuk mnejadikan bahasa Melayu untuk mnejadikan bahsa Melayu sebagai bahasa pergaulan di Provinsi Riau, apa lagi sebagai bahasa resmi PBB, masih menghadapi tantangan yang cukup berat.

namun tanpa kerja keras mulai dari saat ini sulit dibayangkan, apakah suatu saat nanti masih ada masyarakat Pekanbaru maupun Riau yang bertutur dalam bahasa Melayu. Jadi, seharusnya selalu mengingat kata sebuah pepatah yang mengatakan: BAHASA MENUNJUKAN BANGSA.



ucu atan says:

takkan melayu hilang di bumi



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: